Thursday, June 6, 2019

Lailatul Qadar

Jangan berhenti mencari Lailatul Qadar, 
hanya diantara pilar-pilar masjidmu.
Carilah juga ia, 
diantara bhakti pada ayah-ibu, 
dan khidmat pada saudara dan kerabat.

Jangan berhenti mencari Lailatul Qadar, 
semata dibalik dinding-dinding masjidmu.
Temukan pula ia, 
dibalik sedekah untuk si miskin, 
dalam kasih sayang bagi si yatim.

Jangan berhenti mencari Lailatul Qadar, 
sekedar dibawah kubah-kubah masjidmu.
Carilah juga ia, 
didalam bantuan untuk si sakit, 
serta pembelaan pada yang termarjinalkan dan tertindas.

Kediri, akhir Ramadhan 1940H

#selfreminder 
#mudik2019

Wednesday, January 18, 2017

Syukur


Dalam buku "Al Janib Al 'Athifi fil Islam" atau dalam edisi bahasa Indonesia berjudul "Segarkan Imanmu", Dr Muhammad Al Ghazali mengutip ayat 23 dari surat Yusuf.

'...Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik". Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.'

Ayat tersebut menyebutkan tentang respon Yusuf a.s. ketika diajak oleh istri tuannya untuk berkhianat dengan istri tuannya tersebut. Yusuf menolak ajakan tersebut dengan menyebutkan bahwa tuannya sudah memperlakukan dia dengan baik, sehingga dia tidak mau untuk mengkhianatinya.

Syaikh Muhammad Al Ghazali menyebutkan bahwa status Yusuf pada saat itu adalah sebagai budak dari penguasa di Mesir. Namun hal tersebut tidak membuat Yusuf kehilangan rasa terima kasih (baca: syukur) terhadap tuannya tersebut karena walaupun sebagai budak, ia telah diperlakukan dengan baik.

Nabi Muhammad SAW mewasiatkan dalam hadisnya, "Barangsiapa tidak bisa berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak akan bisa berterima kasih kepada Allah".

Wujud dari rasa syukur kita kepada manusia adalah kita berterima kasih dan berbuat baik kepadanya. Sedangkan wujud rasa syukur kita kepada Allah adalah berterima kasih dan senantiasa mengagungkan asmanya seta mengingat dan memujinya setiap saat. Menggunakan dan merawat setiap nikmat yang telah Allah berikan dengan baik. Beribadah dan menyebarkan kebaikan di dunia.
Wallahua'lam.

Jakarta, 19 Januari 2017

Sunday, January 8, 2017

2017 Book Project


Berapa banyak buku yang kita baca tahun ini? Tidak yakin? Tidak ingat? Sama dengan saya. Banyak informasi yang kita dapatkan. Namun tidak banyak yang kita cerna dengan baik menjadi pengetahuan. Banyak teks yang kita baca. Tetapi tidak banyak yang kita serap menjadi makna.
Tahun ini saya ingin berfokus hanya pada 12 buku yang akan dibaca dan ditelaah dengan serius dan semoga terikat menjadi makna dan berbuah menjadi ilmu yang bermanfaat.

Buku-buku tersebut antara lain:
  1. Tarbiyatul Aulad (Dr. Mumamad Nasih Ulwan)
  2. Al Janib Al 'Athifi fil Islam/Segarkan Imanmu (Dr. Muhammad Al Ghazali)
  3. In the Footsteps of The Prophet: Lessons from The Life of Muhammad (Dr. Tariq Ramadan)
  4. Malamih Al Mujtama' Al Muslim (Dr. Yusuf Qardhawi)
  5. 7 Habits of Highly Effective Family (Dr. Steven Covey)
  6. Wawasan Al Qur'an (Dr. Quraish Shihab)
  7. Personal MBA (Josh Kaufman)
  8. Fiqh Daulah (Dr. Yusuf Qardhawi)
  9. Fiqh Aulawiyat/ Fiqh Prioritas (Dr. Yusuf Qardhawi)
  10. Getting to Yes (Roger Fisher & William Ury)
  11. Induk Al Qur'an (Dr. Muhammad Al Ghazali)
  12. The Quest for Meaning (Dr. Tariq Ramadan)

Monday, June 2, 2014

Berlaku Adil

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maidah: 8)

Salah satu ciri orang beriman adalah adil. Obyektif. Meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Lebih jauh lagi, berlaku adil adalah ciri orang yang bertakwa. Karena Allah sendirilah yang mengajarkan dengan salah satu sifat-Nya, yaitu Yang Maha Adil.

Ujian untuk bersikap adil baru akan menemukan maknanya ketika kita dihadapkan pada suatu konflik kepentingan. Baik itu individu maupun kelompok. Baik yang menyangkut materi, apalagi jika konflik itu menyangkut ideologi. Terhadap orang yang berseberangan dengan kita, apalagi yang memusuhi kita terang- terangan.

Saat itulah ujian untuk berlaku adil diuji. Apakah kita akan cenderung kepada pembelaan atas kepentingan kita. Tanpa mempedulikan lagi timbangan keadilan. Menutup mata atas nama kebencian terhadap orang yang membenci kita.
Ataukah kita akan tetap berlaku adil pada semua, termasuk kepada siapa yang memusuhi kita. Dimana disana Allah dan Rasulnya akan menunggu kita bersama barisan orang-orang yang bertakwa.

Ps. Rebo, 3/6/14
~menyambut pilpres 2014 yg riuh.

Wednesday, November 6, 2013

Renungan Jumat : Tadabur Quran Surat Maryam

Surat Maryam dibuka dengan dua kisah yang berbeda tapi memiliki benang merah yang sama. Pertama kisah tentang Nabi Zakaria a.s yang berdoa kepada Allah untuk meminta keturunan. Doa tersebut dijawab Allah dengan menganugerahkan kepada Zakaria seorang anak yang sholeh yang juga seorang nabi bernama Yahya. Usia Zakaria pada saat itu sudah udzur dan istrinya dalam keadaan mandul. Logika manusia Zakaria mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin dan ia sampaikan hal itu melalui dialognya kepada Allah. Kemudian Allah menjawab bahwa hal itu adalah mudah bagi-Nya.

Kisah yang kedua adalah kisah tentang Maryam. Dikisahkan bahwa Maryam adalah perempuan yang sholihah dan dari keturunan yang baik dan terhormat. Allah melalui malaikat Jibril mengabarkan bahwa Maryam akan dianugerahi seorang anak yang kelak akan menjadi Nabi, yaitu Nabi Isa a.s. Sama seperti yang dilakukan oleh Zakaria, Maryam mempertanyakan hal tersebut karena bertentangan dengan logika kemanusiaannya. Bahwa adalah wanita yang suci dan bukan pezina. Tetapi Allah memberikan jawaban yang sama kepada Maryam, itu adalah sesuatu yang mudah bagi Allah SWT.

Kisah diatas memberikan insight kepada kita bahwa kekuasaan Allah melebihi apa yang dapat dicerna oleh akal manusia. Ada hal-hal ghaib yang saat ini belum atau bahkan tidak akan pernah bisa dipahami oleh pengetahuan manusia. Keyakinan insan pada hal-hal ghaib itulah yang menjadi inti dari agama. Keyakinan itulah yang disebut iman. Critical point yang memisahkan antara agama dan materialisme.

Dua kisah tersebut memiliki kesamaan yang menarik. Keduanya mengisahkan tentang seputar proses biologis manusia untuk memiliki keturunan. Satu kisah tentang ketidakmungkinan memiliki keturunan karena usia dan faktor kesuburan. Kisah yang lain tentang keniscayaan memiliki keturunan karena tanpa proses bertemunya sel kelamin laki-laki dan perempuan. Yang menarik adalah, Allah seakan ingin menjelaskan tentang inti agama ini melalui sesuatu yang sangat dekat dengan materialisme, yaitu sains. Lebih menarik lagi dalam kisah ini qur'an tidak memakai tema social science yang boleh jadi debatable dan multi tafsir, tetapi memakai konteks biologi, natural science. Sains yang sulit dibantah karena mendasarkan intinya pada data dan fakta experimental. Seakan Allah SWT ingin mengajarkan kepada manusia tentang keyakinan kepada hal yang ghaib dengan cara yang paling mudah difahami secara luas oleh manusia, namun juga sangat bertentangan dengan logika kemanusiaannya. Dan itulah inti dari agama. Itulah iman.
Wallahualambishowab.

Pasar Rebo, Jumat pagi 8 Februari 2013

Monday, November 4, 2013

Manisnya Ramadhan, Manisnya Kebersamaan

Malam mulai pekat ketika kami pulang dari tarawih. Seperti tahun sebelumnya suasana Ramadhan tahun ini penuh warna. Hana, putri terakhir kami selalu ikut membangunkan kami dengan tangis kecilnya saat malam masuk waktu sahur. Ini adalah Ramadhan pertamanya. Menyertai saat sahur dan sholat subuh berjamaah di masjid dekat rumah kami adalah aktifitas si bungsu ini setiap hari. Senyumnya selalu mengembang ketika dipasangkan jilbab mungil di kepalanya tanda dia akan diajak segera berangkat untuk sholat di masjid bersama ayah dan bundanya.

Anak pertama kami, Haidar memulai Ramadhan tepat saat hari-hari pertamanya masuk SD. Walaupun belum puasa penuh, buka puasa bersama adalah acara favoritnya. Kolak pisang, es buah dan martabak manis dengan susu kental manis bendera diatasnya jadi menu wajib.

“Ayah kenapa kita harus puasa?” celetuknya. “Biar Allah sayang sama kita”, bundanya menjelaskan.  
Rayyan, anak kami kedua yang baru saja masuk TK tidak mau kalah dengan pertanyaan kritisnya, “Kalo sapi-sapi di pabrik ayah puasa nggak?”, tanya Rayyan. “Eee.. puasa gak yaa?”, Kali ini bundanya bingung menjawab. 

Kami hanya tersenyum mendengar celotehan lucu anak-anak kami sore itu. Tidak terasa sudah separuh Ramadhan tahun ini kami jalani. Tak terasa pula Ramadhan telah lebih mendekatkan kami diwaktu-waktu bersama: sahur, berbuka, tarawih dan lainnya. Manisnya Ramadhan bagi kami adalah manisnya momen beribadah, berbagi, bercanda bersama mereka buah hati kami. Momen yang semakin mahal disela kesibukan sebagai orang tua dan riuhnya kehidupan ibukota.

Matahari mulai temaram menjelang berbuka di rumah kami akhir pekan ini. Suara bacaan qur’an dan doa mengalun lembut dari masjid-masjid sekitar. Seperti biasa kami berkumpul, bercengkrama menunggu saat berbuka. Merasakan gembira saat bersama. Nikmati indahnya bersama buah hati tercinta. Menjelang adzan, kami tatap mata-mata kecil itu penuh syukur. Menjelang berbuka, senja itu lirih kami berdoa, semoga Allah ijinkan kami selalu bersama dan bertemu manisnya Ramadhan tahun depan. 

Depok, medio Ramadhan 1434 H.
Adhe Priyambodo

---
ditulis untuk Ramadhan Photo and Story Contest 2013 Frisian Flag Indonesia

My Old Blog

Ini adalah link ke blog lama :

adhe-priyambodo.blogspot.com

Posting terakhir tahun 2006.

Beberapa tulisan adalah original, termasuk puisi "Teruslah Bergerak" yang saya tulis di akhir masa kuliah saat masih di asrama PPSDMS. Belakangan tulisan itu bersliweran di sosial media dan ditulis sebagai karya alm. KH Rahmad Abdullah :).

Selamat menikmati !