Anak pertama kami, Haidar memulai Ramadhan tepat saat hari-hari pertamanya masuk SD. Walaupun belum puasa penuh, buka puasa bersama adalah acara favoritnya. Kolak pisang, es buah dan martabak manis dengan susu kental manis bendera diatasnya jadi menu wajib.
“Ayah kenapa kita harus puasa?” celetuknya. “Biar Allah sayang sama kita”, bundanya menjelaskan.
Rayyan, anak kami kedua yang baru saja masuk TK tidak mau kalah dengan pertanyaan kritisnya, “Kalo sapi-sapi di pabrik ayah puasa nggak?”, tanya Rayyan. “Eee.. puasa gak yaa?”, Kali ini bundanya bingung menjawab.
Kami hanya tersenyum mendengar celotehan lucu anak-anak kami sore itu. Tidak terasa sudah separuh Ramadhan tahun ini kami jalani. Tak terasa pula Ramadhan telah lebih mendekatkan kami diwaktu-waktu bersama: sahur, berbuka, tarawih dan lainnya. Manisnya Ramadhan bagi kami adalah manisnya momen beribadah, berbagi, bercanda bersama mereka buah hati kami. Momen yang semakin mahal disela kesibukan sebagai orang tua dan riuhnya kehidupan ibukota.
Matahari mulai temaram menjelang berbuka di rumah kami akhir pekan ini. Suara bacaan qur’an dan doa mengalun lembut dari masjid-masjid sekitar. Seperti biasa kami berkumpul, bercengkrama menunggu saat berbuka. Merasakan gembira saat bersama. Nikmati indahnya bersama buah hati tercinta. Menjelang adzan, kami tatap mata-mata kecil itu penuh syukur. Menjelang berbuka, senja itu lirih kami berdoa, semoga Allah ijinkan kami selalu bersama dan bertemu manisnya Ramadhan tahun depan.
Depok, medio Ramadhan 1434 H.
Adhe Priyambodo
---
ditulis untuk Ramadhan Photo and Story Contest 2013 Frisian Flag Indonesia

No comments:
Post a Comment