Wednesday, November 6, 2013

Renungan Jumat : Tadabur Quran Surat Maryam

Surat Maryam dibuka dengan dua kisah yang berbeda tapi memiliki benang merah yang sama. Pertama kisah tentang Nabi Zakaria a.s yang berdoa kepada Allah untuk meminta keturunan. Doa tersebut dijawab Allah dengan menganugerahkan kepada Zakaria seorang anak yang sholeh yang juga seorang nabi bernama Yahya. Usia Zakaria pada saat itu sudah udzur dan istrinya dalam keadaan mandul. Logika manusia Zakaria mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin dan ia sampaikan hal itu melalui dialognya kepada Allah. Kemudian Allah menjawab bahwa hal itu adalah mudah bagi-Nya.

Kisah yang kedua adalah kisah tentang Maryam. Dikisahkan bahwa Maryam adalah perempuan yang sholihah dan dari keturunan yang baik dan terhormat. Allah melalui malaikat Jibril mengabarkan bahwa Maryam akan dianugerahi seorang anak yang kelak akan menjadi Nabi, yaitu Nabi Isa a.s. Sama seperti yang dilakukan oleh Zakaria, Maryam mempertanyakan hal tersebut karena bertentangan dengan logika kemanusiaannya. Bahwa adalah wanita yang suci dan bukan pezina. Tetapi Allah memberikan jawaban yang sama kepada Maryam, itu adalah sesuatu yang mudah bagi Allah SWT.

Kisah diatas memberikan insight kepada kita bahwa kekuasaan Allah melebihi apa yang dapat dicerna oleh akal manusia. Ada hal-hal ghaib yang saat ini belum atau bahkan tidak akan pernah bisa dipahami oleh pengetahuan manusia. Keyakinan insan pada hal-hal ghaib itulah yang menjadi inti dari agama. Keyakinan itulah yang disebut iman. Critical point yang memisahkan antara agama dan materialisme.

Dua kisah tersebut memiliki kesamaan yang menarik. Keduanya mengisahkan tentang seputar proses biologis manusia untuk memiliki keturunan. Satu kisah tentang ketidakmungkinan memiliki keturunan karena usia dan faktor kesuburan. Kisah yang lain tentang keniscayaan memiliki keturunan karena tanpa proses bertemunya sel kelamin laki-laki dan perempuan. Yang menarik adalah, Allah seakan ingin menjelaskan tentang inti agama ini melalui sesuatu yang sangat dekat dengan materialisme, yaitu sains. Lebih menarik lagi dalam kisah ini qur'an tidak memakai tema social science yang boleh jadi debatable dan multi tafsir, tetapi memakai konteks biologi, natural science. Sains yang sulit dibantah karena mendasarkan intinya pada data dan fakta experimental. Seakan Allah SWT ingin mengajarkan kepada manusia tentang keyakinan kepada hal yang ghaib dengan cara yang paling mudah difahami secara luas oleh manusia, namun juga sangat bertentangan dengan logika kemanusiaannya. Dan itulah inti dari agama. Itulah iman.
Wallahualambishowab.

Pasar Rebo, Jumat pagi 8 Februari 2013

Monday, November 4, 2013

Manisnya Ramadhan, Manisnya Kebersamaan

Malam mulai pekat ketika kami pulang dari tarawih. Seperti tahun sebelumnya suasana Ramadhan tahun ini penuh warna. Hana, putri terakhir kami selalu ikut membangunkan kami dengan tangis kecilnya saat malam masuk waktu sahur. Ini adalah Ramadhan pertamanya. Menyertai saat sahur dan sholat subuh berjamaah di masjid dekat rumah kami adalah aktifitas si bungsu ini setiap hari. Senyumnya selalu mengembang ketika dipasangkan jilbab mungil di kepalanya tanda dia akan diajak segera berangkat untuk sholat di masjid bersama ayah dan bundanya.

Anak pertama kami, Haidar memulai Ramadhan tepat saat hari-hari pertamanya masuk SD. Walaupun belum puasa penuh, buka puasa bersama adalah acara favoritnya. Kolak pisang, es buah dan martabak manis dengan susu kental manis bendera diatasnya jadi menu wajib.

“Ayah kenapa kita harus puasa?” celetuknya. “Biar Allah sayang sama kita”, bundanya menjelaskan.  
Rayyan, anak kami kedua yang baru saja masuk TK tidak mau kalah dengan pertanyaan kritisnya, “Kalo sapi-sapi di pabrik ayah puasa nggak?”, tanya Rayyan. “Eee.. puasa gak yaa?”, Kali ini bundanya bingung menjawab. 

Kami hanya tersenyum mendengar celotehan lucu anak-anak kami sore itu. Tidak terasa sudah separuh Ramadhan tahun ini kami jalani. Tak terasa pula Ramadhan telah lebih mendekatkan kami diwaktu-waktu bersama: sahur, berbuka, tarawih dan lainnya. Manisnya Ramadhan bagi kami adalah manisnya momen beribadah, berbagi, bercanda bersama mereka buah hati kami. Momen yang semakin mahal disela kesibukan sebagai orang tua dan riuhnya kehidupan ibukota.

Matahari mulai temaram menjelang berbuka di rumah kami akhir pekan ini. Suara bacaan qur’an dan doa mengalun lembut dari masjid-masjid sekitar. Seperti biasa kami berkumpul, bercengkrama menunggu saat berbuka. Merasakan gembira saat bersama. Nikmati indahnya bersama buah hati tercinta. Menjelang adzan, kami tatap mata-mata kecil itu penuh syukur. Menjelang berbuka, senja itu lirih kami berdoa, semoga Allah ijinkan kami selalu bersama dan bertemu manisnya Ramadhan tahun depan. 

Depok, medio Ramadhan 1434 H.
Adhe Priyambodo

---
ditulis untuk Ramadhan Photo and Story Contest 2013 Frisian Flag Indonesia

My Old Blog

Ini adalah link ke blog lama :

adhe-priyambodo.blogspot.com

Posting terakhir tahun 2006.

Beberapa tulisan adalah original, termasuk puisi "Teruslah Bergerak" yang saya tulis di akhir masa kuliah saat masih di asrama PPSDMS. Belakangan tulisan itu bersliweran di sosial media dan ditulis sebagai karya alm. KH Rahmad Abdullah :).

Selamat menikmati !

Monday, March 27, 2006

WISUDA

Puisi ini kukirimkan ke teman2 yang mendahului wisuda. Tapi kali ini puisi ini untukku. :)


Sudah purnakah penjelajahan rimba-Nya
Sudah puaskah penelusuran rumus-rumus-Nya
Hingga harus ada wisuda ?

Sudah terpungutkah hikmah di jalan-Nya
Dan sudah keringkah samudera tinta-Nya
Hingga harus ada wisuda ?

Jika wisuda berarti … “aah… akhirnya rampunglah sudah”
Maka berhentilah membaca!
Karena tidak ada lagi yang bisa dibaca
oleh wisudawan
semua sudah berakhir dengan tanda titik
seperti ini . titik

Padahal :
“Katakanlah, “Sekiranya air laut sebagai tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya laut itu kering sebelum
habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, walaupun Kami
datangkan tambahan sebanyak itu (lagi)”


Akhi fiLlah yang tidak pernah berhenti membaca …
Bukankah cita-cita tetap di langit ?

KESABARAN DAN PENGETAHUAN

QS Al-Kahfi
66. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu?"
67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup
sabar bersama aku.
68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang
sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".

Kita biasanya tidak akan bisa bersabar terhadap hal-hal yang belum kita fahami. Batas kesabaran kita adalah sebagaimana batas pengetahuan kita. Jadi, bila suatu saat kita tidak sabar atas hal atau peristiwa tertentu, maka itu tandanya kita belum memiliki pemahaman dan pengetahuan yang cukup atas hal atau peristiwa tersebut. Orang yang sabar adalah orang yang memahami bahwa ada hikmah dibalik semua kejadian. Orang yang sabar adalah orang yang tahu bahwa ada tujuan jangka panjang yang jauh lebih penting daripada kepentingan sesaat saja. Bersabar untuk kepentingan jangka panjang dan kepentingan yang lebih luas/besar membutuhkan pemahaman. Bersabar untuk mendahulukan hal penting di masa depan membutuhkan pengetahuan.

Friday, January 20, 2006

TERUSLAH BERGERAK...

Teruslah Bergerak...
hingga KELELAHAN itu LELAH
mengikutimu

Tetaplah Berlari...
hingga KEBOSANAN itu BOSAN
mengejarmu

Teruslah Berjalan...
hingga KELETIHAN itu LETIH
bersamamu

Teruslah Bertahan
hingga KEFUTURAN itu FUTUR
menyertaimu

Tetaplah Berjaga
hingga KELESUAN itu LESU
menemanimu


Mulyosari,160106